x editorial.id skyscraper
x editorial.id skyscraper

Dua Nakhoda PBNU, Denny JA: Tiga Skenario Masa Depan Nahdlatul Ulama

Avatar Mohamed Kosim

Politik

Editorial.ID - Nahdlatul Ulama (NU), rumah spiritual bagi puluhan juta jiwa, kini berada di persimpangan sejarah yang genting. Organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini didera dualisme kepemimpinan yang memicu bukan hanya sengketa administratif, melainkan sebuah kegelisahan moral yang mendalam di tingkat umat. Pertanyaan yang bergema adalah Siapa sesungguhnya yang memimpin PBNU hari ini?.

Ketegangan ini bermula dari klaim berseberangan antara KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum sebelumnya yang menilai pencopotannya cacat prosedur, dengan KH Zulfa Mustofa, Penjabat (Pj) Ketua Umum yang baru ditetapkan dan meyakini legitimasinya berdasarkan rapat pleno Syuriyah. Dua tokoh karismatik, dua klaim keabsahan, telah menciptakan kabut tebal yang mengancam keutuhan jam’iyah.

Konflik kepemimpinan bukanlah hal baru bagi NU. Denny JA mengingatkan pada Muktamar Situbondo 1984, di mana kearifan para kiai sepuh berhasil membawa NU kembali ke Khittah 1926 yaitu ruh moral dan sosial, menjauh dari politik praktis sempit. Konflik saat itu menjadi pintu pembaruan.

Namun, drama kali ini memiliki lapisan baru yang jauh lebih sensitif dan destruktif nuansa kepentingan sumber daya alam.

"Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern NU, publik mendengar desas-desus tentang konsesi tambang yang dikaitkan dengan tokoh tertentu," papar Denny JA dalam halaman pribadinya, Kamis (11-12-2025).

Isu ini, meskipun belum terverifikasi, menyebar dan menciptakan warna konflik yang lebih gelap. Jika NU terseret dalam pusaran kepentingan material, ia berisiko kehilangan otoritas simbolik yang selama ini menjadi kekuatan terbesarnya otoritas yang membuatnya didengar karena kebijaksanaan, bukan karena kekayaan atau kekuasaan.

Konflik PBNU hari ini, tegas Denny JA, adalah ujian integritas moral di tengah menguatnya politik sumber daya alam di Indonesia.

Denny JA merumuskan tiga jalur potensial yang akan menentukan apakah NU akan kembali menjadi jangkar bangsa atau terbelah menjadi faksi-faksi yang saling meniadakan.

Pertama, Rekonsiliasi, Islah (Jalan Penyembuhan), Ini adalah jalan keluar yang didambakan. Dalam sebuah pertemuan yang dipimpin para kiai sepuh, kedua kubu duduk sebagai pelayan jam’iyah, bukan rival. Ego mereda, dan solusi bijak lahir NU menyegerakan Muktamar Istimewa yang diterima semua pihak.

"Di jalan ini, NU kembali pada Khittah menjadi mercusuar moral bangsa, bukan sekadar aktor di panggung kekuasaan. Suara PBNU kembali bulat, wibawanya pulih..." ungkap Denny JA dalam tulisannya.

Skenario Kedua, dualisme Sementara (Jalan Kabut), Dualisme dibiarkan menggantung, menciptakan ketidakpastian. Meskipun tetap berdiri, suara NU akan serak, wibawanya meredup, dan arahnya kabur.

"Harga yang dibayar adalah hilangnya momentum moral: nasihat PBNU tak lagi sekuat dulu, karena publik melihat organisasi yang tak selesai dengan dirinya sendiri," terangnya.

Para pengurus cabang dan ranting akan terus menunggu kepastian, terombang-ambing di tengah dualisme legitimasi.

Ketiga, dualisme Permanen (Luka Abadi), Ini adalah skenario paling gelap. Konflik tak mereda, dua kubu mengeras dan bahkan berpotensi membentuk NU tandingan. NU akan terbelah, berdiri seperti pohon tua yang rapuh.

"Jika NU retak, retak pula salah satu fondasi kedamaian sosial dan Islam moderat Indonesia," tambahnya.

Perpecahan yang berlarut-larut akan menghilangkan bukan hanya kesatuan organisasi, tetapi juga kepercayaan publik yang telah dibangun puluhan tahun.

Denny JA juga memperingatkan Konflik PBNU hari ini adalah tentang keutuhan tradisi dan moralitas jam’iyah yang selama ini menjadi jangkar bagi umat. Sejarah telah mencatat bahwa NU selalu mampu menemukan cahayanya kembali, tetapi itu hanya terjadi ketika para pemimpinnya memilih persatuan di atas ego, kedewasaan di atas ambisi, dan Khittah di atas manuver sesaat.

"Sebab NU, seperti mata air tua di tengah padang. Ia hanya dapat menghidupi bangsa bila ia tetap satu aliran. Ketika pecah menjadi dua, airnya tak lagi menghilangkan dahaga, hanya menyisakan retakan di tanah," tutup Denny JA.

Editor : Mohamed Kosim

Artikel Terbaru
Selasa, 11 Agu 2026 15:54 WIB | Politik

DPRD Jatim Cari Solusi Nasib PPPK, Dorong Pemprov Kreatif dan Jangan Tergantung Pusat

Komisi A DPRD Jawa Timur mendesak kreativitas dan terobosan dari kepala daerah dalam mencari solusi atas ketidakpastian kebijakan Pegawai Pemerintah dengan ...
Selasa, 11 Agu 2026 12:15 WIB | Politik

Kekeringan Berulang di Madura, DPRD Jatim Dorong Sumur Bor untuk Selamatkan Petani

Kekeringan yang berulang setiap musim kemarau di Madura dinilai tidak boleh lagi hanya ditangani ketika krisis air sudah terjadi. Pemerintah Provinsi Jawa ...
Selasa, 04 Agu 2026 08:15 WIB | Politik

Fraksi PDIP DPRD Jatim Minta Semua Kapal Dicek Sebelum Berlayar Usai Tragedi KMP Mutiara Sentosa 2

Musibah kebakaran Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Mutiara Sentosa 2 di perairan Sumenep, Madura yang merenggut lima korban jiwa mendapat perhatian Anggota DPRD ...
Senin, 03 Agu 2026 09:52 WIB | Daerah

JAWARA Tembakau 2026 Cetak Agropreneur Muda, Jaga Varietas Lokal Jatim

Regenerasi petani menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlanjutan sektor pertembakauan di Jawa Timur. Di tengah tuntutan peningkatan produktivitas, efi ...
Rabu, 29 Jul 2026 10:28 WIB | Politik

Reses Sriatun Andalkan Barcode, Serap Aspirasi Warga Sidoarjo Lebih Cepat dan Tepat Sasaran

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, dr Sriatun, menghadirkan cara baru dalam menjaring aspirasi masyarakat saat menggelar reses di daerah pemilihannya, Kabupaten ...
Selasa, 28 Jul 2026 10:59 WIB | Daerah

Jatim Sumbang 52,10 Persen Produksi Tembakau Nasional

Jawa Timur memiliki kekayaan varietas tembakau yang beragam. Setidaknya terdapat lima jenis tembakau yang dikembangkan dan memiliki karakteristik serta pangsa p ...