Silaturahmi Virtual di Era New Normal

Lukman Hakim

MASA Pandemi mengajarkan arti penting keikhlasan untuk menerima keadaan. Budaya bertemu dan berinteraksi langsung mulai dikurangi, diganti dengan komunikasi jarak jauh. Rasa rindu dan ingin berkumpul dengan keluarga, kolega dan sahabat di kampung halaman terpaksa diurungkan. Tidak mudah memang, namun inilah opsi yang paling mungkin dilakukan untuk menghindari diri dari penyebaran virus korona.

Kurva jumlah pasien positif korona terus menanjak dan belum ada tanda-tanda akan melandai. Per Kamis, 28 Mei 2020 kasus korona di Indonesia tercatat mencapai 24.538. Sedangkan jumlah pasien yang sembuh sebanyak 6.240 orang dan pasien meninggal sebanyak 1.496. Data tersebut menegaskan bahwa situasi saat ini masih sangat mengkhawatirkan.

Saya sendiri akhirnya merelakan untuk tidak mudik ke Pontianak, bertemu dengan Ibu dan sanak keluarga. Bukan hanya karena taat pada imbauan pemerintah berdiam diri di rumah, namun itulah wujud rasa cinta dan sayang. Jika memaksa berangkat, potensi tertular di perjalanan sangat besar. Bukan membawa rasa bahagia, pulang kampung justru awal malapetaka.

Silaturahmi virtual akhirnya menjadi pilihan. Kami bercengkrama via video call whatsapp, tak terasa hingga 60 menit lamanya. Berbicara secara bergantian satu per satu dengan sanak keluarga, memohon maaf atas khilaf. Suasana haru bahagia sesekali menyelimuti perbincangan kami, air mata kerinduan mengalir saat mengingat kembali kenangan kebersamaan masa lalu.

Kehangatan dan keintiman silaturahmi virtual dalam proses komunikasi kami, mungkin saja tidak bisa dirasikan oleh orang lain. Banyak  faktor yang mempengaruhi di antaranya kedekatan, isi pembicaraan, ekspresi wajah, intonasi, kejernihan suara dan suasana hati. Meskipun tidak dapat dipungkiri sisi emosional dari komunikasi tatap muka tidak akan mampu dibayar sama oleh silaturahmi virtual. Namun melalui langkah pembiasaan inilah masyarakat mulai beradaptasi dan mengubah paradigma tentang cara berkomunikasi.

Esensi Silaturahmi   

Silaturahmi berasal dari dua kata bahasa Arab, yaitu shilah yang berarti relasi atau hubungan dan ar-rahim yang bermakna kasih sayang. Pada umumnya diterjemahkan sebagai tali persaudaraan. Mungkin saja akibat kesalahpahaman atau kesibukan aktivitas sehari-hari hubungan sosial menjadi renggang. Silaturahmi menjadi jembatan pelebur dosa antar sesame manusia yang lahir dari kesalahan, perbedaan pandangan dan kekhilafan.

Berdasarkan keterangan Al Quran dan Hadis Nabi, silaturahmi mengandung banyak keutamaan. Secara garis besar, keutamaan itu di antaranya diluaskan rezeki, dipanjangkan umurnya, menjaga kerukunan, membahagiakan keluarga dan menjalankan perintah Allah SWT. Melalui keutamaan tersebut, masyarakat muslim nusantara menganggap silaturahmi sebagai budaya yang dilestarikan .

Dalam tradisi umat Islam di Indonesia, silaturahmi digambarkan sebagai salah satu agenda berkunjung ke sanak saudara, keluarga, tetangga, dan masyarakat. Untuk mewujudkan suasana penuh keakraban dan kekeluargaan itu, saat akan Idulfitri setiap tahun masyarakat di perantauan berbondong-bondong mudik ke kampung halaman. Namun di tengah kepungan pagebluk kemeriahan silaturahmi seperti mudik, bersalaman, dan bertamu sementara harus ditunda.

Meski dilakukan dalam format baru dan terasa berbeda, silaturahmi virtual merupakan opsi terbaik untuk menjaga keselamatan dan menjaga diri dari bahaya virus korona. Masyarakat akan mulai beradaptasi dan terbiasa berkunjung ke rumah sanak saudara melalui kontak WhatsApp, Skype, Facebook, Zoom Instagram, dan platform komunikasi lain.

We Are Social bermarkas di London Inggris pada 2020 mengungkap ada 175,4 juta pengguna internet di Indonesia atau terjadi kenaikan 17% dibanding tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan total populasi Indonesia yang berjumlah sekitar 272,1 juta jiwa, itu artinya 64% penduduk Indonesia telah tersambung dengan dunia maya.

Berdasarkan umur, persentase pengguna internet berusia 16 hingga 64 tahun  masing-masing memiliki jenis perangkat, di antaranya mobile phone (96%), smartphone (94%), non-smartphone mobile phone (21%), laptop atau komputer desktop (66%), table (23%), konsol game (16%), sisanya virtual reality device (5,1%). Sedangkan masyarakat Indonesia yang menggunakan ponsel tercatat sebanyak 338,2 juta. Menariknya,  ada 160 juta pengguna aktif media sosial.

Adapun medsos yang paling banyak digunakan adalah YouTube, WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, Line, FB Messenger, LinkedIn, Pinterest, We Chat, Snapchat, Skype, Tik Tok, Tumblr, Reddit, Sina Weibo. Selain Zoom, selama masa pandemi sebagian besar masyarakat Indonesia menggunakan medsos di atas untuk berinteraksi, menggelar rapat, mengadakan seminar dan menjalin silaturahmi.

Bentuk silaturahmi bisa saja berubah, namun esensinya harus dipahami secara mendalam sehingga tetap mendapatkan keutamaan. Mufassir terkemuka, Muhammad Quraish Shihab (1999) dalam karyanya “Membumikan Al-Qur’an: Peran dan Fungsi Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat” mengutip sebuah hadis nabi, “Bukanlah bersilaturrahim orang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturrahim adalah yang menyambung apa yang putus” (HR Bukhari).

Melalui petunjuk Rasulullah tersebut, kita memahami makna silaturahmi yang bernilai tinggi bukan dilakukan dengan seremonial belaka, namun mampu menyadarkan diri bahwa manusia tak bisa luput dari kesalahan dan dosa. Hubungan yang sempat renggang dan terputus akibat kesalahpahaman diharapkan dapat tersambung kembali. Dimulai dari langkah kecil sederhana dengan insaf saling memaafkan menuju kesucian jiwa yang hikiki.

Akhirnya, sikap saling memaafkan dengan ikhlas dan tulus menjadi pintu mendapatkan keberkahan dan keutamaan silaturahmi. Di masa Pandemi ini, silaturahmi virtual menjadi solusi yang hadir di tengah keterbatasan jarak dan waktu. Sebagai budaya komunikasi baru, teknologi komunikasi akan banyak dikeluhkan namun saat semua sudah terbiasa menggunakan tidak akan ada kendala berarti. Untuk itu, akselerasi adaptasi dengan mengakrabi teknologi komunikasi merupakan keharusan. Tanpa hal itu, kita akan sulit menjadi bagian dari masyarakat global dan rela digilas zaman.  

Lukman Hakim

Penulis Adalah Dosen Komunikasi IAIN Kediri, Wakil Ketua LPTNU Mojokerto

Facebook Comments