Pimpin Surabaya Tak Sulit, Bambang DH : Tak Perlu Marah marah

Surabaya – Jelang Pilkada 9 Desember 2020, mantan Walikota Surabaya, Bambang Dwi Hartono angkat bicara soal karakter masyarakat dan sosok yang dibutuhkan warga kota Pahlawan.

Menurutnya, memimpin warga Kota Surabaya tidak terlalu sulit. Hal ini mengacu pada karakter masyarakatnya yang spontan dan terbuka. Jika ada celetukan dan keluhan, itu adalah hal lumrah. Warga hanya perlu dijelaskan saja tanpa marah-marah.

“Kita jelaskan dulu, warga Surabaya ini cepat paham. Gak perlu dimarahi, apalagi diumpat-umpat. Dicaci maki gak perlu. Enak karakteristik masyarakatnya,” beber Bambang, Minggu (3/8/2020).

“Makanya mimpin Surabaya gak perlu teriak-teriak, marah-marah, sampai gebrak-gebrak, termasuk ke anak buah (ASN). Saya katakan birokrasi ini pasti taat pada pimpinan. Paling enak mimpin pegawai negeri. Ndak perlu dibentak-bentak”.

Karena itu, dirinya membeberkan kriteria sosok yang diinginkan warga kota pahlawan. Diantaranya figur yang memahami wilayah dan masyarakat yang dipimpinnya.

“Mencintai orang yang dipimpin. Mencintai apapun tindakannya, diekspresikan dengan halus maupun keras karena kecintaan, bukan karena emosi,” kata Bambang DH.

Bisa paham karakteristik wilayah dan warga yang dipimpin. “Kalau tidak memahami susah, marah-marah tok, ngambek tok, nangis tok,” kata Walikota Surabaya periode 2002-2010.

Jangan sampai, lanjut Bambang, wali kota tidak paham potensi kotanya sendiri. Kemudian harus tahu mimpi rakyatnya, bukan hanya berpikir mewujudkan cita-citanya sendiri. “Jangan-jangan mimpi rakyatnya aja gak tahu. Warganya pengen apa gak tahu dia. Dia mewujudkan mimpinya, bukan mimpi kolektif warganya,” ungkapnya.

“Yang sulit itu bagaimana mimpi kolektif jadi mimpi bersama. Bukan mimpi keakuannya ditonjolkan,” dia menegaskan.

Riset dan naskah akademik, menurutnya menjadi pegangan wajib bagi calon pemimpin Surabaya saat akan mengambil kebijakan

Selama menjabat wali kota maupun wakil wali kota, dia mengaku menggunakan dasar akademik dan riset sebelum mengambil keputusan. “Ojo sak enake dewe, sak karepe dewe (jangan seenaknya sendiri, semaunya sendiri),” tukasnya.

“Ini mengelola orang mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Mulai bayi sampai mau mati,” dia menambahkan.

Facebook Comments