Soal Ekplorasi Sumur Minyak Bangkalan, Fraksi NasDem Jatim: Jangan Sampai Merusak Lingkungan!
Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD Jawa Timur, KH Nasih Aschol, memberikan pandangan strategis terkait rencana pengelolaan puluhan sumur minyak rakyat yang berpotensi dieksplorasi di Kabupaten Bangkalan, Madura.
Saat ini, Pemprov Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Bangkalan masih menunggu kejelasan mekanisme dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait pengelolaan sumur minyak masyarakat tersebut. Diketahui, terdapat sekitar 46 titik sumur minyak yang dinilai berpotensi untuk dikembangkan.
Menanggapi hal tersebut, Nasih Aschol menekankan pentingnya pelibatan aspirasi lokal serta kajian yang matang dan menyeluruh sebelum langkah eksplorasi dan pengeboran dilakukan.
Anggota DPRD Jatim Dapil Madura itu menegaskan bahwa proses kajian tidak boleh hanya berfokus pada potensi teknis atau jumlah minyak yang dapat dieksplorasi. Lebih penting dari itu adalah dampak langsung terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
"Tidak hanya dilakukan sebuah kajian terkait sejauh mana sumur itu akan dieksplorasi atau dibor, tetapi lebih kepada bagaimana dampaknya terhadap masyarakat. Kajian harus lebih menyeluruh, jangan sampai pengeboran ini justru menimbulkan kerusakan lingkungan," tegas Nasih.
Ia juga mengingatkan agar penanganan dan kajian teknis dilakukan dengan sangat teliti untuk meminimalisasi risiko bencana teknis di lapangan.
Di sisi lain, Fraksi NasDem menyatakan dukungannya terhadap rencana pengelolaan sumur minyak tersebut selama mampu memberikan dampak signifikan bagi peningkatan infrastruktur dan kesejahteraan ekonomi masyarakat Madura.
Menurutnya, kebutuhan infrastruktur di Madura saat ini sangat mendesak. Kehadiran proyek eksplorasi minyak ini diharapkan tidak hanya menghubungkan antar-titik sumur saja, tetapi juga dapat membuka aksesibilitas serta mendukung berbagai aktivitas ekonomi warga.
"Kalau bicara di Madura, yang paling dibutuhkan adalah pembangunan infrastruktur. Jika infrastruktur penunjang dibangun, titik-titik tersebut tidak hanya menghubungkan antar-sumur, tetapi juga menghubungkan aktivitas perekonomian masyarakat sehingga ekonomi lokal bisa tumbuh," jelasnya.
Guna menghindari kesalahpahaman dan kekhawatiran di tengah masyarakat, Nasih Aschol meminta agar hasil kajian teknis, potensi, hingga mitigasi risiko disosialisasikan secara terbuka dan langsung kepada warga lokal.
"Masyarakat perlu tahu hasil dari setiap kajian yang dilakukan. Oleh karena itu, sosialisasi terkait rencana pengeboran ini harus disampaikan secara transparan dan langsung kepada masyarakat," pungkasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur masih menunggu rekomendasi dari Pemerintah Kabupaten Bangkalan terkait pengelolaan 446 sumur bor milik warga yang mengeluarkan cairan minyak.
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur mencatat, ada sekitar 446 sumur bor di Kabupaten Bangkalan yang mengeluarkan cairan minyak. Sumur tersebut tersebar di delapan desa dari empat kecamatan.
Editor : Redaksi