JAWARA Tembakau 2026 Cetak Agropreneur Muda, Jaga Varietas Lokal Jatim
Editorial - Regenerasi petani menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlanjutan sektor pertembakauan di Jawa Timur. Di tengah tuntutan peningkatan produktivitas, efisiensi, dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi, generasi muda dinilai perlu dipersiapkan agar tidak sekadar menjadi penerus budidaya, tetapi juga mampu mengembangkan tembakau sebagai sektor usaha yang menjanjikan.
Menjawab tantangan tersebut, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur mendorong lahirnya generasi muda yang tidak hanya piawai mengolah lahan, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan, menguasai teknologi, serta mampu membaca peluang pengembangan komoditas tembakau.
Upaya itu diwujudkan melalui program Youth Agrifuture Agropreneur Tembakau 2026 yang diperkenalkan dengan identitas JAWARA Tembakau, akronim dari Jiwa Wira Usaha Tembakau Agropreneur Muda Berkualitas.
Program yang dijalankan Dinas Perkebunan Jatim melalui Bidang Produksi Tanaman Semusim tersebut dirancang untuk membentuk generasi penerus pertembakauan yang terampil, adaptif, inovatif, dan memiliki orientasi kewirausahaan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur Dr. Ir. Heru Suseno, M.T. mengatakan, keberlanjutan pertembakauan Jatim membutuhkan generasi baru yang memiliki kemampuan lebih luas. Tidak hanya menguasai teknik budidaya, tetapi juga memahami teknologi, mekanisasi, pengelolaan usaha, hingga peluang pasar.
"Keberlanjutan pertembakauan Jawa Timur bergantung pada hadirnya generasi yang tidak hanya terampil di lahan, tetapi juga mampu mengelola usaha, memanfaatkan teknologi, dan membaca peluang pengembangan komoditas," kata Heru.
Melalui JAWARA Tembakau, peserta tidak sekadar ditempatkan sebagai penerima dukungan produksi. Mereka didorong menjadi pelaku utama yang terlibat langsung dalam seluruh proses pengelolaan pertanaman selama satu musim tanam.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah pembangunan demonstration farm (demfarm) sebagai ruang pembelajaran sekaligus praktik lapangan. Setiap penerima kegiatan harus menyiapkan lahan seluas satu hektare untuk dikelola sebagai demfarm.
Di lahan tersebut, peserta menerapkan teknik budidaya, mengamati perkembangan tanaman, menggunakan sarana produksi secara tepat, sekaligus belajar menangani berbagai persoalan yang muncul selama proses budidaya.
Pengalaman di lapangan tersebut menjadi pelengkap pembelajaran di ruang kelas. Peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga menghadapi langsung persoalan nyata dalam budidaya tembakau dan belajar mengambil keputusan berdasarkan kondisi pertanaman.
"Petani muda tidak ditempatkan sebagai penerima bantuan pasif, melainkan sebagai pelaku yang belajar mengambil keputusan sepanjang musim tanam," ujar Heru.
Pada 2026, program JAWARA Tembakau dilaksanakan melalui 15 demfarm dengan total luas 15 hektare yang tersebar di 14 kabupaten. Lokasi demfarm tersebut mewakili sejumlah kawasan pengembangan tembakau di Jawa Timur.
Jenis tembakau yang dikembangkan mencakup tembakau Jawa, Madura, Kasturi, Besuki Na-Oogst, Paiton, White Burley hingga Virginia. Keberagaman tersebut sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal karakter masing-masing varietas dan wilayah pengembangannya.
Untuk mendukung kegiatan di lapangan, Dinas Perkebunan Jatim memberikan berbagai sarana produksi. Di antaranya bibit tembakau, pupuk, insektisida, fungisida, bakterisida, bahan pengendali tunas samping atau sucker control, terpal, alat pelindung diri (APD), hingga handsprayer elektrik.
Pola tersebut membangun komitmen bersama antara pemerintah dan peserta. Peserta menyediakan lahan, tenaga, waktu, serta kesediaan mengikuti seluruh proses kegiatan. Sementara pemerintah memberikan dukungan berupa sarana produksi, peningkatan kapasitas, teknologi, dan pendampingan.
Dengan konsep tersebut, bantuan yang diberikan tidak berhenti pada aspek produksi. Peserta juga mendapatkan pengalaman mengelola pertanaman secara mandiri dan bertanggung jawab.
Tak berhenti pada praktik budidaya, JAWARA Tembakau juga membekali peserta dengan pengetahuan teknologi dan inovasi pertanian. Peningkatan kapasitas dilakukan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga pertanian.
Peserta mendapatkan pelatihan teknologi dan inovasi tembakau bersama Universitas Brawijaya. Materi yang diberikan diarahkan untuk memperluas pemahaman peserta terhadap perkembangan teknologi, peningkatan mutu, serta efisiensi produksi.
Pelatihan mekanisasi pertanian juga menjadi bagian penting dalam program tersebut.
Peserta dikenalkan dengan berbagai alat dan metode kerja yang lebih efisien untuk mengurangi ketergantungan terhadap tenaga manual sekaligus mempercepat sejumlah tahapan pekerjaan di lahan.
Sementara itu, pelatihan bersama BRMP-TAS berfokus pada peningkatan kemampuan teknis budidaya tembakau. Pengetahuan yang diperoleh peserta kemudian diterapkan dan dievaluasi melalui praktik langsung di demfarm masing-masing.
"Pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan tidak berhenti sebagai teori. Peserta diharapkan dapat menerapkannya secara langsung di demfarm dan melihat hasil serta tantangannya di lapangan," jelasnya.
Selain mencetak agropreneur muda, JAWARA Tembakau juga membawa misi penting dalam menjaga keberadaan varietas tembakau yang telah dilepas dan menjadi bagian dari kekayaan pertanian Jawa Timur.
Varietas tersebut memiliki karakter yang berkaitan erat dengan wilayah pengembangannya. Karena itu, keberadaannya perlu dijaga agar tidak hanya tercatat dalam dokumen, tetapi tetap ditanam, dikenali, dikembangkan, dan dimanfaatkan oleh generasi berikutnya.
Melalui demfarm, generasi muda mendapatkan kesempatan untuk membudidayakan berbagai varietas sekaligus mengenali karakter tanaman secara langsung. Pendekatan tersebut membuat proses regenerasi petani berjalan beriringan dengan upaya pelestarian varietas.
Ketika generasi baru mendapatkan ruang untuk belajar dan mengembangkan usaha, varietas tembakau Jawa Timur juga memiliki peluang lebih besar untuk terus hadir dan berkembang di lahan pertanian.
Lebih jauh, JAWARA Tembakau diarahkan untuk mengubah pola pikir generasi muda dari sekadar petani menjadi seorang agropreneur. Pertanaman tidak hanya dipandang sebagai aktivitas budidaya, tetapi sebagai sebuah unit usaha yang harus direncanakan, dihitung, dan dikelola secara profesional.
Peserta didorong memahami kebutuhan produksi, penggunaan sarana pertanian, pencatatan kegiatan, efisiensi biaya, peningkatan mutu hasil, hingga peluang pasar.
"Kami ingin generasi muda tidak hanya memiliki kemampuan menanam tembakau, tetapi juga mampu melihat pertanaman sebagai sebuah usaha yang memiliki peluang untuk dikembangkan," kata Heru.
Kedekatan generasi muda dengan teknologi juga menjadi modal penting dalam pengembangan sektor pertembakauan. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan perkembangan tanaman, mengelola informasi, memperluas jejaring, serta mendukung pengembangan usaha di wilayah masing-masing.
Karena itu, keberhasilan JAWARA Tembakau tidak hanya diukur dari hasil pertanaman yang diperoleh dari demfarm. Dampak yang lebih penting adalah meningkatnya keterampilan, kepercayaan diri, kemampuan mengadopsi teknologi, serta kesiapan peserta untuk melanjutkan usaha tani secara mandiri.
"Keberhasilan program tidak hanya dilihat dari hasil pertanaman, tetapi juga dari bagaimana peserta mampu meningkatkan keterampilan, mengadopsi teknologi, dan memiliki kesiapan untuk mengembangkan usaha tani secara mandiri," ujarnya.
Melalui demfarm, pelatihan, penerapan inovasi, mekanisasi, dan pelestarian varietas, JAWARA Tembakau menjadi salah satu langkah strategis Dinas Perkebunan Jatim dalam menyiapkan generasi baru penggerak pertembakauan.
Petani muda tidak sekadar dipersiapkan untuk meneruskan tradisi budidaya tembakau. Mereka juga didorong menjadi pelaku usaha yang mampu membawa komoditas tembakau Jawa Timur menuju pengelolaan yang lebih modern, efisien, bernilai tambah, dan berkelanjutan.
Dengan demikian, JAWARA Tembakau diharapkan menjadi jembatan antara tradisi pertanian dan masa depan. Di satu sisi menjaga varietas tembakau yang menjadi kekayaan daerah, di sisi lain membuka ruang bagi generasi muda untuk tumbuh sebagai agropreneur yang mampu menjawab tantangan zaman. (arm)
Editor : Redaksi