Inspiratif, Meski Terkendala Ekonomi, Putra Buruh Tani Bekasi Sukses Menyandang Gelar Doktor

Rasmito menjalani posesi Wisuda Dokrornya di tengah Pandemi Covid-19

Problematika pendidikan di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah, padahal jelas dalam amanat undang-undang, hak pendidikan adalah wajib bagi setiap warga negara.

Faktornya sangat beragam terkait permasalahan pendidikan ini. Tapi hal yang sering kita temukan di lapangan terkait itu, yakni tentang ketersediaan biaya yang cukup untuk melanjutkan pendidikan. Akhirnya, tak sedikit anak bangsa yang berhenti mengejar cita-cita karena alasan tersebut.

Tapi alasan itu sepertinya tidak berlaku bagi Rasmito, anak buruh tani asal Kampung Pulosirih, Desa Sukajadi, Kabupaten Bekasi. Tak mau terjerembah dalam jurang kebodohan yang kerap kali berujung kemiskinan karena tak mampu mengeyam pendidikan, ia bertekad keras untuk mengejar cita-cita menyelesaikan pendidikannya.

Putra sulung Bapak Nadah dan Ibu Sulastri ini pun kini berhasil menambah daftar panjang inspirasi anak kurang mampu yang berhasil sekolah setinggi-tingginya sampai meraih gelar doktor dibidang kependidikan dan lingkungan hidup.

Kuliah Sambil Bekerja, Hingga Gagal Dapat Beasiswa

Meskipun orang tua hanya buruh tani yang menggarap sawah milik orang lain. Tahun 2005, Rasminto memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikan dengan masuk ke Program Studi Pendidikan Geografi di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Mengingat orang tua secara ekonomi dengan keterbatasan untuk mendukung biaya perkuliahan, Rasminto sibuk bekerja untuk menopang kebutuhan hidup dan biaya kuliahnya. Ia juga aktif berorganisasi untuk mengasah kepeduliaan terhadap kondisi sosial masyarakat.

Mulai dari menjadi tutor, staf marketing di salah satu lembaga bimbingan belajar di Jakarta, mengajar di SMA 68 & SMA Budi Agung Jakarta, hingga aktif menjadi asisten peneliti di Program Studi Geografi UNJ.

Dengan segala keterbatasan biaya mapun bimbingan, mengingat belum ada anggota keluarga yang pernah mengenyam bangku kuliah, Rasminto pun berhasil lulus tahun 2009. Kelulusan ini tak lepas dari semangat nenek yang terus mendukungnya.

Tidak hanya sampai disitu, tahun 2011, Rasminto pun memberanikan diri ikut seleksi masuk program Pascasarjana di Program Studi Kependudukan & Lingkungan Hidup (PKLH) Pascasarjana UNJ. Di tahun tersebut, Rasminto juga berkesempatan mendapatkan program beasiswa, hanya saja kesempatan itu urung Ia dapatkan karena terkendala syarat administrasi.

Tak patah arang, Rasminto yang sudah biasa bekerja sejak masih muda, ia tetap bertekad akan melanjutkan kuliahnya meski tanpa program beasiswa. Lagi-lagi pilihannya pun bekerja, di masa-masa ini berbagai pekerjaan Rasmito dilakoni. Antara lain, menjadi pengajar di STKIP Pancasakti Bekasi, hingga menjadi konsultan pendidikan di NGO Save The Children (USA).

Berkat upaya kerasnya, Ia pun berhasil meraih gelar Magister Pendidikan di tahun 2013 dan berhasil meraih predikat cumlaude dengan indeks prestasi 3.77.

Berhasil Meraih Gelar Doktor Kependudukan dan Lingkungan Hidup

Setelah berhasil meraih gelar magister, Ia pun masih tak merasa puas, tahun 2015 Ia pun melanjutkan kuliahnya di S3 PKLH Pascasarjana UNJ.

“Lulus S2, saya justru merasa dahaga belajar. Karena itu, saya pun berupaya melanjutkan studi di program studi yang sama. Niatnya agar pendidikan saya mendekati paripurna dan bisa membanggakan keluarga,” Cerita Rasmito.

Program doktor ini dilalui Rasminto dengan cukup berat, Ia yang sempat pesimis dengan beasiswa di fase ini kembali menjalani kuliahnya dengan biaya mandiri.

“Pendidikan saya tempuh sambil mengajar sebagai dosen di FKIP Unisma Bekasi dan menjadi konsultan di beberapa lembaga swasta maupun pemerintahan” lanjutnya.

Tantangan dalam menyelesaikan S3 juga tak kalah banyaknya. Menikah dan mengurus keluarga, semakin banyaknya pekerjaan serta berbagai kewajiban di organisasi sosial adalah tantangan tersendiri.

Dengan berbagai rintangan yang dihadapi, di bulan Agustus tahun 2020 tepat pada bulan lahirnya, Pria yang kini berusia 34 tahun 2 bulan ini, sukses mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji dalam sidang terbuka pada 21 Agustus 2020 kemarin.

Hanya saja, karena masih dalam kondisi Pandemi, sidang terbukanya pun harus digelar secara virtual.

“Semua virtual, tapi tidak masalah yang terpenting esensi sidang terbukanya dapat dan tetap bisa disaksikan oleh keluarga, teman dan kolega,” Kata Rasmito.

Hari ini, wisudanya pun harus dijalani dengan virtual. Rasminto serta wisudawan lain pada sidang terbuka wisuda semester 112 UNJ yang sudah menyelesaikan studinya telah membuktikan bahwa Pandemi dan keterbatasan apapun bisa dilewati selama niat dan tekad semangat untuk belajar itu kuat.

Facebook Comments